Ekspresi Emosi (“Apakah Emosiku Lebay?”)

#SeriBelajarEmosi

Image for post
Image for post
koleksipribadi

“Aku merasa baik-baik saja, diambil yang baiknya saja,” kilahnya. Dia menghindari tatapan saya, tangannya terkepal terlihat sedikit tremor mengusap telapaknya yang tampak sedikit berkeringat. Saya tahu pernyataan itu tidak sesuai ekspresi gesturenya yang terlihat “rapuh”.

Saya mengobservasi bahasa tubuhnya selain mendengarkan apa yang disampaikan. Terkadang kata-kata yang disampaikan tidak koheren dengan ekspresi emosi yang merupakan pesan yang jauh lebih akurat dan mendekati kebenaran.

Walaupun terbungkus oleh penampilan yang apik dan santun, saya mengerti perasaan yang bersangkutan sesungguhnya tidaklah sedang baik-baik saja. Budaya dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi seseorang tidak mengizinkan dirinya untuk menunjukkan ekspresi emosi yang dinilai negatif seperti marah, kesal, benci dan sejenisnya. Ada aturan tak tertulis, terlarang untuk mengakui secara verbal bahwa dalam diri ada emosi tersebut, apalagi bila diperlihatkan secara nyata dalam bentuk gerak laku secara motorik. Namun kenyataannya gagal disembunyikan.

Sebagian orang justru menunjukkan ekspresi emosi secara negatif dengan sangat terbuka. Ekspresi negatif sering menimbulkan kerusakan pada lingkungan dan konflik interpersonal secara langsung. Marah dengan cara memukul, menyumpahi, menangis meraung-raung, dan sebagainya. Bila belum cukup puas, bahkan mempostingnya di medsos dan langsung menunjuk hidung orang-orang atau memperlihatkan situasi yang membuatnya tak nyaman.

Barangkali karena hal inilah maka orang cenderung tidak menerima tindakan ekspresi emosi dan menyangka emosi hanya diperlihatkannya dengan cara yang negatif. Hal ini mungkin juga karena yang bersangkutan hanya mengetahui cara-cara yang negatif atau mungkin juga karena kekurangan model untuk berelasi dengan nyaman terutama saat seseorang sedang berkonflik.

Ekspresi Emosi Negatif vs Positif

Sesungguhnya istilah emosi negatif, sedikit kurang tepat karena pada dasarnya emosi itu bersifat netral pada awalnya. Istilah positif dan negatif lebih mengacu pada ekspresi yang tepat atau kurang tepat sesuai konteksnya. Upaya mengenal-bahasa-emosi- dapat membantu kita memahami mekanisme yang terjadi dalam diri.

Banyak orang menyebutkan “marah” sebagai emosi negatif, bahkan istilah emosi saja seringkali hanya bermakna marah dan bersifat negatif. Mungkin lebih umum orang melihat seseorang marah dalam bentuk ekspresi tantrum, mengamuk, membanting, merusak barang, memukul orang lain atau melukai diri sendiri. Marah sebagai salah satu dari warna emosi pada dasarnya baik dan sangat mungkin wajar bila objeknya memang membuat seseorang merasa tidak nyaman, terancam dan terdorong untuk melindungi dirinya. Hanya saja, ekspresi kemarahan tidaklah perlu diekspresikan dengan cara negatif. Celakanya, kita seringkali menganggapnya demikian dan mendapatkan contoh yang memperkuat stigma tersebut. Bahwa marah itu identik dengan memukul, merusak dan menyakiti.

Tidak seluruhnya salah, karena ada kualitas emosi dan perbedaan rasa bahasa pada penamaan emosi. Ada spektrum rasa saat kita menyebut marah, murka, muak, kesal, sebal, dan sebagainya. Karena itu ekspresi marah dapat saja sangat beragam dari mimik muka cemberut sampai pada tindakan agresif yang terbuka.

Mengacu pada populernya istilah emosi, marah, dan emosi negatif yang dianggap merusak ini, maka pelatihan emosi, terkesan hanya melatih mengelola emosi marah. Menarik memang, sehingga pelatihan anger management akan sangat laku di pasaran. Dan lalu sebagian orang semakin salah kaprah, ketika menyangka bahwa mengelola itu sama dengan melampiaskan kemarahan dengan terbuka, atau mengalihkannya pada benda dengan memukul bantal atau melempar barang atau bahkan dengan menghukum diri sendiri.

Efek merusak pada ekspresi emosi dengan cara negatif dapat saja terjadi pada emosi lain seperti sedih, takut, atau senang. Sedih yang berlebihan dapat saja menjadi terlalu dalam dan terpuruk seperti kondisi depresi dan keinginan untuk mengakhiri hidup. Demikian juga rasa takut terlalu kuat, yang menjadikan seseorang mengalami kehampaan dan terputus dari lingkungan. Apa pun dapat berpeluang menjadi masalah serius bila semuanya berlebihan atau lebay. Baik menolak perasaan itu sendiri atau mengumbarnya tanpa kendali.

Saya akan perjelas dengan contoh berikut ini.

Bila seorang gadis sedang duduk di angkot, lalu ada seorang pemuda dengan sengaja menyentuh tubuhnya dengan paksa, ia berhak melindungi dirinya bukan? Emosi marah adalah wajar dan sangat pantas ia marah sebagai bentuk menjaga harga dirinya. Ekspresinya dapat saja dalam bentuk menepis tangan si pemuda, langsung memukulnya untuk tujuan membalas yang setimpal, berteriak atau melotot. Akan sangat berbahaya bila tak ada rasa marah dan ia diam saja membiarkan dirinya diperundung atau dilecehkan sehingga kehilangan harga diri dan kehormatannya. Tetapi juga sangat lebay kalau sang gadis mengamuk dan menghantam sang pemuda secara membabi buta dan melumpuhkan pemuda tersebut seolah-olah ia seorang penjahat. Tetapi bila memang perilakunya mengarah pada kejahatan serius, maka perlindungan diri bisa saja ditunjukkan dengan melaporkan pemuda kepada polisi dan menuntutnya di pengadilan. Bukankah itu tindakan adil? Dan kita tak bisa serta merta mengatakan bahwa tindakan sang gadis sebagai merusak dan memalukan. Semua itu ekspresi dari emosi marah.

Tak dipungkiri bahwa setiap ekspresi emosi juga sangat dipengaruhi oleh respon spontan yang dibentuk oleh pemaknaan seseorang terhadap stimulus lingkungan. Mari kenali tiga-langkah-belajar-lagi-mengenali-emosi-.

Ekspresi emosi senang lebih disukai dan dianggap positif. Umumnya orang mengharapkan hal baik dan membahagiakan. Itu tidaklah salah dan tentu saja positif. Akan tetapi, emosi senang dapat menjadi masalah bila ekspresinya berlebihan atau keluar konteksnya. Seseorang sangat wajar tersenyum bila ada yang menyenangkan. Seseorang wajar tertawa bila intensitas kesenangan meningkat atau lebih kuat. Tetapi akan sangat aneh juga bila ada orang meninggal dunia, lalu ia tertawa terbahak-bahak, meskipun mungkin memang ia merasa senang karena orang yang meninggal tersebut adalah orang yang dibencinya. Apakah dalam konteks ini tertawa merupakan emosi positif? Tentu saja warna emosi senang dan ekspresinya negatif karena tidak relevan dengan konteks situasi atau stimulus yang sewajarnya membuat seseorang merasakan emosi lainnya pada saat itu. Sedih, tenang, berempati dengan kondisi keluarga mungkin lebih tepat. Hanya saja ekspresi emosi tidak sekadar berkomunikasi secara asertif, karena melibatkan aspek lain selain bahasa dan tatakrama.

Emosi dalam Lingkup Respon Sosial Budaya

Dalam budaya tertentu, seseorang dianggap baik, bila mampu menahan diri untuk tidak mengeskspresikan emosi, terutama emosi yang dianggap negatif. Sedih, marah, maupun kesal karena ekspresi tersebut sangat tidak pantas ditunjukkan secara terbuka.

Ada pandangan bahwa ekspresi emosi dipengaruhi budaya dan konteks sosial. Emosi sebagai respons dalam komunikasi sosial, terkait stimulus lingkungan yang dibentuk dalam konteks sosial. Maka ekspresi emosi dilihat dalam kaitannya dengan pola budaya dan komunikasi sosial yang melingkupinya.

Pola ekspresi ini dapat kita kaji dengan membandingkan antara Barat yang diwakili Amerika yang ekspresif dan Asia yang diwakili Jepang yang lebih terkesan kaku dan terkendali. Pola-pola ini sangat umum dan sangat mudah dikenali, walaupun kini kita dapat melihat stereotipe itu bisa berubah akibat pergaulan dunia yang lebih global.

Emosi pada budaya Asia misalnya lebih banyak bersifat ekspresi verbal atau naratif. Sehingga kita akan bisa lebih mengenali emosi seseorang karena ungkapan perasaannya disampaikan dalam bentuk verbalisasi. Misalnya “saya tidak suka, saya marah, saya sedang sedih”. Dalam budaya lain, sebaliknya sangat minim kata tetapi dapat secara jelas mengekspresikan emosi lewat gesturnya, sedangkan kata hanya menambahkan saja.

Di Indonesia sendiri, masih sering kita membandingkan, pola ekspresi emosi antara budaya Jawa yang lebih tenang, diwakili oleh Yogyakarta dan non-Jawa yang dapat diwakili oleh suku-suku di Sumatra yang lebih ekspresif baik dalam ekspresi verbal maupun nonverbal/gesture.

Meredam Emosi

Meredam emosi identik dengan menahan diri untuk tidak memperlihatkan warna emosi yang sesungguhnya. Penerimaan budaya dapat dilihat dari beberapa ekspresi khas pada berbagai etnis di Indonesia yang lebih spesifik. Ada kecenderungan orang tidak menerima bila tertawa dengan terbahak-bahak di depan publik, atau menangis dengan bersuara dan keluar air mata.

Perbedaan penerimaan lingkungan juga dapat kita kenali berdasarkan gender. Laki-laki dianggap cengeng bila menangis dibandingkan dengan perempuan, namun laki-laki juga dianggap wajar bila marah dengan memukul dan berkelahi.

Mungkin juga ada alasan yang terkait dengan pola kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan, penerimaan dan pengorbanan atau demi perolehan cinta dari orang atau lingkungan.

Emosi tertentu sangat baik dan diharapkan untuk ditampilkan karena dianggap lebih positif seperti senang dan bahagia dan ekspresi lainnya dianggap tidak baik dan merusak, seperti marah atau menangis. Dengan demikian akan mungkin terjadi pengalihan emosi yang sebenarnya atau primer menjadi ekspresi yang sekunder yang berbeda dari penghayatan sebenarnya. karena terlarang menangis, mungkin seseorang diajarkan untuk mengurung diri dan menghindar dari orang saat sedih.

Kehilangan spontanitas dan minimnya pengalaman mengekspresikan emosi secara tepat dan wajar membuat seseorang “kurang hidup”, terkesan kaku, datar, dan sulit untuk memulai berelasi sosial, terhambat dan berpeluang tidak bahagia. Seniman, terutama seni teatrikal, lebih berani melakukan eksplorasi ekspresi emosi. Untuk mengasahnya, kita dapat berlatih berganti-peran-dalam-psikodrama. Spontanitas adalah awal dari kreatifitas, kreatifitas merupakan ujung tombak dari terbentuknya budaya yang pada akhirnya akan menjadi peradaban manusia.

###

Klien saya ini berusaha mengusap ujung matanya, “Saya tak boleh menangis dan lemah,” isaknya. Mulutnya berusaha tersenyum kaku namun tubuhnya sedikit terguncang sebelum akhirnya meledakkan tangisan yang tak tertahankan lagi. Sudah lama ia tak bisa menunjukkan kerapuhan dirinya di hadapan orang lain. Sudah lama ia tak bisa bersikap spontan dan menerima bagian dirinya yang rapuh.

Tampaknya kita lebih senang terlihat baik-baik saja dan lebih senang membuat orang lain melihat kita dalam keadaan baik. Walaupun mungkin itu bukanlah hal yang buruk, terkadang efeknya juga belum tentu baik.

Seseorang dapat saja mengatakan dia baik-baik saja di mulutnya, namun Cetak Emosi dalam Tubuh Kita.

“Tidak apa-apa menangis dan menyadari diri tidak sebaik yang diharapkan, menangislah! bisik saya. Ruang klinik saya sangat privat, sehingga tangisan meraung saja tak akan disadari oleh anggota keluarga yang berada di ruangan lain. Saya senang, ketika klien saya pulang dengan wajah sumringah dan menampakkan ekspresi emosi yang lebih natural.

Bandung, 17 Desember 2020

Psikoterapis, marital konselor, praktisi psikodrama

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store