Kematian yang Kita Takuti

#refleksidiri

Saat kutuliskan ini, artinya aku masih hidup dan dalam keadaan sehat serta tenang memikirkan kematian. Namun, “Apakah kita tak pernah takut dengan kematian?”

Image for post
Image for post
Photo by Warren Wong on Unsplash

Hari ini, saya mendengar suami rekan profesi meninggal setelah sakit teridentifikasi positif Covid-19. Salah satu keponakan masuk wisma atlet karena positif Covid. Saya juga mendengar teman se-SMA meninggal dunia. Seorang kawan sedang isolasi di rumah sakit, sedangkan rekan psikolog yang lain masih isolasi mandiri di rumah setelah dua minggu di rumah sakit. Dia harus menjaga jarak dengan anaknya walaupun mungkin bisa bertemu mereka namun lebih aman melihatnya lewat jendela kamar saja. Bahkan kawan saya ini, sudah dua bulan sejak diidentifikasi masih tetap dinyatakan positif. Kabar teman, keluarganya atau bahkan satu keluarga yang mengisolasi diri mandiri sudah tercium semakin banyak melalui medsos dan juga info dari grup ke grup.

Itu belum cukup memprihatinkan, sebab masih banyak kabar lain yang terus intens masuk ke grup WA yang lebih privat. Sudah dua hari ini, grup RW memberitahu bahwa ada warga terpapar covid dan mengajak yang lain agar lebih waspada. Dan hari ini salah satu tetangga mengabarkan bahwa kerabatnya positif covid-19. Tak ada pilihan, meskipun masih bisa isolasi mandiri di rumah. Warga se-RW saya memang sudah diajak untuk berjarak sejak Maret saat pandemi resmi diumumkan, tempat tinggal saya sudah teridentifikasi wilayah merah.

Sebagian orang memutuskan untuk diam dan tidak memberitahukan kabar dirinya yang sedang sakit, sampai tiba-tiba kita kaget dengan berita kematiannnya. Saya tentu tidak sedang menakut-nakuti pembaca. Seperti yang saya tuliskan beberapa bulan lalu, semoga covid-19-sekali-ini-saja

Kita semua, suka atau tidak, sedang menuju dunia baru. Memang ada orang yang perlu meninggal dengan cara terkena wabah. Dan sebagian memang akan bertahan. Saya tidak ingin berspekulasi tentang ke mana arah sang Malaikat maut pergi. Namun dapat kita bayangkan, jika saja mungkin suatu hari nanti, orang terpapar covid dan berbagai jenis virus turunannya adalah hal biasa saja. Seperti biasanya kita terpapar cacar oleh tetangga atau tertular virus hepatitis yang tidak lagi terlalu menakutkan. Padahal semua penyakit meskipun dianggap berbahaya tidak ada kaitannya dengan kematian. Tapi saya tidak sedang berteori dan mengajarkan untuk menolak fakta kematian karena covid-19. Saya juga tidak sedang bercanda. Ada 6 grup WA yang sedang ramai mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi rajiun dalam dua hari ini, untuk kasus kematian orang yang berbeda.

Kematian itu menakutkan, membuat hidup kita serba tidak pasti. Seolah kita lupa, memang hidup ini sejak awal tidaklah pasti. Kita tak pernah tahu skenario yang Allah persiapkan bagi kita. Tetapi setidaknya kita yakin memang ada Aktor yang membuat skenario, kita tak tahu persis kisah yang telah dituliskan itu, tetapi Dia tahu. “Bukankah keren, memiliki Tuhan yang tahu persis apa yang akan diperbuatnya dan tahu bagaimana mengatur makhluknya?” Mungkin kalimat itu yang akan diucapkan Gus Baha, tentang jalan cerita manusia yang penuh rahasia ini.

Saya juga tidak tahu kapan ajal menjemput saya, atau menjemput Anda. Tentu tidak ada aturan berdasarkan hurup abjad, antrian berdasarkan umur atau karena kondisi fisiknya. Tidak juga karena amal perbuatan kita. Orang yang baik tidak lantas lebih panjang usianya dan yang jahat segera dicabut nyawanya oleh Malaikat. Tidak ada jalan bagi kita untuk memastikannya. Kehidupan dan kematian yang berulang bagian dari wilayah urusan takdir Tuhan yang penuh misteri. Tidak ada peluang kita mendiskusikan atau mempertanyakan takdir. Wilayah ini hanya dapat diterima dan diyakini.

Yang dapat dipastikan adalah kesempatan yang kita miliki saat ini, saat kita masih bisa membaca tulisan ini, saat kita masih bisa berkarya, saat kita masih bernapas, saat penciuman dan pengecapan kita masih berfungsi, saat kita masih bisa menanam pohon walaupun mungkin besok adalah akhir hidup kita.

Berfokus pada yang tidak pasti membuat kita tidak punya pegangan dalam hidup, karena itu sekali lagi menjadi hal yang patut disyukuri saat kita punya keyakinan bahwa hidup kita tak akan sia-sia. Sebab Tuhan yang kita sembah tidak menjadikan semua ini kesia-siaan. Apa yang kita lakukan akan dicatat oleh petugas malaikatnya, amal kita akan diperhitungkan dan hidup kita akan berguna bagi perjalanan kita setelah kematian. Kematian yang menjadi pintu gerbang berikutnya pada kehidupan yang lain. Bukankah keren bahwa Tuhan Mahaadil?” Kira-kira begitu komentar Gus. Kau pikir mati adalah akhir segalanya? Tentu saja tidak, bagi yang percaya bahwa kehidupan bukanlah sekedar gerak nabati dan siklus mineral di alam semesta.

Persoalan sesungguhnya, kita takut bertemu Tuhan karena selama ini kita berbuat hal yang konyol, banyak dosa, lalai, dan melupakan tugas yang diberikan Tuhan untuk ibadah kepada-Nya. Karena itu kita tak mau berjumpa dengannya. Kematian selalu menakutkan dan akan selalu dihindari bila saja mampu.

Menjadi hal yang indah, saat kita memiliki keyakinan bahwa kematian bukanlah awal yang buruk, sebab ada Tuhan yang Maha Penyayang yang menyambut dengan penuh ampunan dan welas asih. Tapi di level seperti apa untuk dapat memiiki ketenangan batin menghadapi kematian sebagaimana akan bertemu dengan sang Kekasih yang dirindukan.

Bila kita sadari betapa indahnya hidup kita di dunia yang cantik dan lengkap ini. Semestinya kita bertanya dan sekaligus mampu menjawab sendiri tentang kebaikan Tuhan yang menyediakan kebutuhan kita di dunia ini. Walaupun tidak semua manusia berterima kasih, tidak semua makhluknya menyembahNya, dan tidak semua menjadi hamba yang taat dan bersyukur. Tuhan ini begitu Maha Baik dan Penyayang, “apakah kita tak cinta pada Tuhan macam begini?”, mungkin itu pertanyaan Gus dan menjadi aneh kalau kita menjawab tidak. lalu mengapa kita tidak rindu dan senang bila suatu hari kita akan kembali kepada-Nya?

Ini memang ilmu, demikianlah adanya, terlepas dari kita siap atau tidak pada faktanya menghadapi kematian yang terasa begitu nyata dan dekat. Kita mendekat terus tanpa tahu kapan kita sampai pada titik perhentian itu. Konon kematianlah yang membuat manusia berpaling pada Agama. Kita berharap hidup dalam keselamatan dan mati dalam keadaan selamat juga. Bukankah indah ketika Agama Islam artinya agama yang selamat. Setiap selesai shalat selalu kita ucapkan salam ke kanan dan ke kiri. Kita berharap semua orangpun berada dalam keselamatan. Dan kita selalu berdoa kepada pemilik nama Al-Salam, Sang Pemberi keselamatan. Dan kita meminta padanya Keselamatan hidup di dunia, selamat saat hidup di dunia berakhir. Selamat saat kematian menjemput, juga selamat dalam kehidupan selanjutnya.

Ada satu kalimat yang selalu saya ingat dari buku lamanya Bapak Komaruddin Hidayat, 2005, Psikologi Kematian. Semoga suatu saat ketika tiba waktunya menjemput roh saya, dia (Malaikat maut) akan melakukannya dengan bersahabat, sadar bahwa kami sama-sama hamba Allah. Makan akan kusapa ia, “Assalamu’alaikum ya Izrail”. Bila selamat dalam kehidupan selanjutnya dengan kembali ke surga penuh keselamatan, apakah kita perlu takut akan kematian?

Saya rasa terkadang saya takut juga. Semoga hidup kita berakhir dalam kebaikan dan keselamatan.

Bandung, 15 Desember 2020

Psikoterapis, marital konselor, praktisi psikodrama

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store