Menemukan Diri dalam Jurnal Gambar

#masihtentangjurnaling

Menggambar adalah aktivitas yang menyenangkan dan biasa dilakukan sejak kanak-kanak oleh hampir semua orang. Semua orang dapat melakukan tugas menggambar.

Image for post
Image for post

Menggambar pada awalnya adalah cara mengkomunikasikan pikiran tanpa kata, ketika kosa kata masih terbatas pada anak-anak, gambaran dalam pikiran lebih mudah dicetak secara visual. Anak-anak menangkap gambaran realitas, imajinasi dan kreatifitas secara spontan. Mereka tak pernah takut menggambar dan tidak terkungkung oleh aturan akademis seperti dimensi ruang atau perspektif.

Menggambar juga merupakan ekspresi seni dan bagian dari ruang kreativitas yang tak perlu dibatasi oleh aturan yang terlalu kaku. Namun saat dewasa, Banyak dari kita mulai kehilangan spontanitas, menggambar menjadi sesuatu yang hanya dilakukan bagi yang menguasai teknik dan kepekaan visual. …


#SeriBelajarEmosi

Image for post
Image for post
koleksipribadi

“Aku merasa baik-baik saja, diambil yang baiknya saja,” kilahnya. Dia menghindari tatapan saya, tangannya terkepal terlihat sedikit tremor mengusap telapaknya yang tampak sedikit berkeringat. Saya tahu pernyataan itu tidak sesuai ekspresi gesturenya yang terlihat “rapuh”.

Saya mengobservasi bahasa tubuhnya selain mendengarkan apa yang disampaikan. Terkadang kata-kata yang disampaikan tidak koheren dengan ekspresi emosi yang merupakan pesan yang jauh lebih akurat dan mendekati kebenaran.

Walaupun terbungkus oleh penampilan yang apik dan santun, saya mengerti perasaan yang bersangkutan sesungguhnya tidaklah sedang baik-baik saja. Budaya dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi seseorang tidak mengizinkan dirinya untuk menunjukkan ekspresi emosi yang dinilai negatif seperti marah, kesal, benci dan sejenisnya. Ada aturan tak tertulis, terlarang untuk mengakui secara verbal bahwa dalam diri ada emosi tersebut, apalagi bila diperlihatkan secara nyata dalam bentuk gerak laku secara motorik. …


#seribelajaremosi

Image for post
Image for post
koleksipribadi

Menggambar ekspresi emosi dalam bentuk detil yang tercetak pada muka ternyata tidak mudah. Sebenarnya detil itu sudah tercetak dalam diri, tetapi sangat jarang disadari. Ini suatu tantangan tersendiri yang luar biasa untuk menggambarnya bagi yang tidak memiliki keahlian secara teknis atau kurang kepekaan dalam visual persepsi. Padahal gambar memiliki banyak sekali manfaat, antara lain melatih kepekaan, empati, juga mengaktifkan kedua belahan otak secara seimbang.

##

Menurut penelitian Tomkins yang saya kutip dari bukunya Lisa Feldman Barrett, How Emotions Are Made: The Secret Life of the Brain (e-book ), para ilmuwan menyimpulkan bahwa pengenalan emosi itu universal, jadi kita sesungguhnya dapat mengenali ekspresi emosi secara universal. Emosi dalam pandangan ini terkait dengan bentukan pola yang terstruktur di otak manusia yang sangat erat dengan pola genetik dan proses neurologis serta respons faal tubuh. …


#refleksidiri

Saat kutuliskan ini, artinya aku masih hidup dan dalam keadaan sehat serta tenang memikirkan kematian. Namun, “Apakah kita tak pernah takut dengan kematian?”

Image for post
Image for post
Photo by Warren Wong on Unsplash

Hari ini, saya mendengar suami rekan profesi meninggal setelah sakit teridentifikasi positif Covid-19. Salah satu keponakan masuk wisma atlet karena positif Covid. Saya juga mendengar teman se-SMA meninggal dunia. Seorang kawan sedang isolasi di rumah sakit, sedangkan rekan psikolog yang lain masih isolasi mandiri di rumah setelah dua minggu di rumah sakit. Dia harus menjaga jarak dengan anaknya walaupun mungkin bisa bertemu mereka namun lebih aman melihatnya lewat jendela kamar saja. Bahkan kawan saya ini, sudah dua bulan sejak diidentifikasi masih tetap dinyatakan positif. …


#serungobrolpsikodrama

Suatu hari mobil paling gaya kami sedang rawat rutin di sebuah service center. Maksud hati mengerjakan sesuatu di depan laptop namun ternyata saya ketinggalan sambungan baterainya. Setelah membaca dan menulis, waktunya masih luang untuk mondar mandir mencari inpirasi.

“Coba aku difoto dong di sebelah mobil ini!” seruku. “Apa? Ini demi pencitraan?” kata paksu. Paksu tahu, saya bukanlah orang yang senang bergaya, apalagi dengan sengaja berpotret di sebelah barang yang tidak relevan dengan citra diri dan juga tidak realistis menjadi bagian dari diri saya.

Image for post
Image for post

Walau akhirnya aku dipotretnya dengan HP, foto mukaku tampak sepotong. Itu karena beliau selain tak ahli memotret, juga tampak tengah melawan konflik untuk memaksakan diri memotretku. Saya hanya menyeringai mengamati hasilnya, “Yang penting ada merek mobilnya, sedangkan yang lain hanya latar belakang.” …


#masihtentangjurnaling

Image for post
Image for post
Photo by Marcos Paulo Prado on Unsplash

Saya setuju dengan apa yang dikatakan Tim Ferriss tentang menulis jurnal. Bahwa menulis tidak serta merta harus menjadi kegiatan produktif, bisa jadi sekedar upaya mengurung monyet yang berloncatan dalam pikiran kita. Hal itu pula yang selalu saya katakan pada klien saya, saat menyarankan mereka mengerjakan jurnal pagi. “Tuliskan saja apa pun yang muncul di pikiran, tuliskan saja apa yang dirasakan dan apa pun yang selama ini selalu mengganggu dan ingin dilepaskan.”

Saya sendiri menulis refleksi yang tidak selalu saya lakukan setiap hari. Karena terkadang, saya mengerjakan agenda rutin lain selain menulis. Menulis jurnal bukan untuk menjadi penulis atau untuk memaparkan ide atau pendapat untuk dipublikasikan dan dibaca orang lain. Saya lebih banyak menulis sekadar meletakkan sebagian gelas yang memberatkan saja, atau memilih gagasan, menuangkan insightyang muncul tiba-tiba. Tetapi dalam hal ini, saya juga menggunakan teknik jurnaling menulis kepada klien saya untuk menjadi aktivitas healing. Tujuannya adalah untuk mengurai pikiran menjadi lebih runtut. Tekniknya sangat sederhana dan mudah, semua orang dapat melakukannya, bila ada yang masih khawatir menulis-apakah-perlu-referensi , Anda tidak perlu pandai menulis, ini bukan perlombaan dan uji level literasi. …


#masihtentangjurnaling

Image for post
Image for post
Photo by Green Chameleon on Unsplash

Kata orang, saya senang bercerita, terhitung bawel barangkali. Sulit menyetop kalau sudah memulainya, tapi saya punya alasan dan penjelasannya. Umumnya kita berbicara secara spontan untuk menyampaikan informasi, bertanya atau merespons suatu dialog bahkan sekadar menguatkan jawaban saat berbicara dalam sesi ngobrol bebas. Ini berbeda saat kita menulis, walaupun masih bentuk kebawelan yang dituangkan dalam bentuk tertulis. Dalam bentuk tertulis, kalimat kita bisa dikoreksi dan dapat ditimbang ulang, apakah sudah tepat atau belum. Apakah runtut atau jlimet. Dan ternyata, perlu juga rujukan atau referensi yang menjadi dasar dari tulisan ini.

Terkait rujukan, ini ternyata tidak mudah bagi saya. Pola menulis yang saya lakukan, tak lebih dari memindahkan apa yang ingin saya ungkapkan, menuangkan gagasan yang mungkin diperoleh dari berbagai sumber, dan terkadang tidak ingat dari mana sumbernya. Saya tIdak secara khusus mengumpulkan bahan-bahan lalu dirangkum, membuat kesimpulan, dan menuliskannya. Mungkin kita mengenal istilah berpikir induktif, mendapatkan ide dari berbagai hal yang spesifik dan mengaitkan satu fakta dengan fakta lain dan menemukan gagasan baru yang bersifat umum. Atau sebaliknya dari kesimpulan yang umum, lalu kita merinci, hal-hal yang lebih detail atau lebih khusus. Bila kita menulis suatu gagasan, mungkin dapat dilakukan dengan kedua cara berpikir itu dan sama-sama akan mengacu pada referensi yang mendasari tulisan tersebut. …


#masihtentangjurnaling

Image for post
Image for post
koleksi pribadi.jurnal

Ketika remaja dulu mungkin kita terbawa oleh tren dan ikut-ikutan memiliki buku diary bergembok yang kertasnya berwarna dan memiliki gambar lucu. Tetapi sesungguhnya hanya kita isi dengan curcol kepedihan hati. Seperti jatuh cinta tapi gak berani bicara, disakiti teman, merasa kehilangan, sebal sama si A dan marah sama di B. Maklum kalau lagi good mood, terus asyik dan lupa diri, lupa dengan catatan diary oh diary yang tersimpan apik di laci terkunci. …


#masih tentang jurnaling

Image for post
Image for post
Photo by Kimberly Farmer on Unsplash

Saya memiliki dua dus buku catatan, yang belum sempat diperiksa ulang sejak buku-buku itu saya pindahkan dari rumah lama, sementara buku lain sudah saya tata di rak. Berbagai jenis buku agenda, kertas yang penuh dengan catatan tulisan tangan, ketikan dan mungkin lembaran-lembaran fotokopian. Pastinya akan sangat mengejutkan bila melihat isinya dan menyadari banyak hal yang pernah saya lewati dalam waktu yang cukup panjang. Itulah diary, bulletin, jurnal, catatan resume, tulisan inspirasi dan entah apa lagi, yang sebagian tidak ingin dibaca atau cukup menjadi rahasia pribadi.

Catatan itu mungkin juga tidak terlalu penting lagi. Lagipula tulisan tangan saya tidak pernah rapi dan semua itu sudah berlalu. Lagi pula setiap tahun selalu ada buku catatan. Setiap akhir tahun saya selalu menyempatkan merenungkan ulang apa yang pernah saya tuliskan dalam rencana dan harapan awal tahun, maka secara sederhananya saya sudah mencoba mengelola dan mencatat perjalanan hidup ini dengan baik. …


Sebuah refleksi setelah 20 tahun membersamai.

Image for post
Image for post
Mom & Me. Koleksi pribadi

“Terkadang rasa takut membuat kita kuat, rasa malu memberi kita kemandirian. Pengalaman, sekali lagi adalah guru yang paling berharga. Sikap bijak selalu lebih baik dari pengetahuan. “

###

“Apa yang kamu khawatirkan? Anakmu cantik, sehat, lincah dan cerdas sekali.” Ibu menanggapi kisahku tentang betapa anakku blocking dites verbal. Beberapa kata sederhana gagal dia jelaskan. Kalimatnya blibetdan tidak memahami apa yang dimaksud. Mengamati penggunaan katanya, sangatlah konkret dan tidak sesuai dengan angka IQ yang tinggi.

“Menurutmu dia kenapa?” kata Ibu DR. Suci Wibowo, konsultan psikolog di PG/TK Bunda Ganeca. “Kamu ‘kan sekarang psikolog, coba cari tahu apa yang terjadi,” tuturnya lembut dengan mata yang senantiasa teduh itu menatapku. Membuat aliran darahku naik ke bagian pipi lebih cepat. Aku menunduk malu dan ada rasa gamang di dalam sana, terasa dahiku mengerut mendekatkan kedua alisku. …

About

Iip Fariha

Psikoterapis, marital konselor, praktisi psikodrama

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store